Selasa, 29 Januari 2008

Paradigma Modern yang Sesat

Paradigma Materialistik
Kalau anda ditanya "apa itu manusia?", apa jawab anda? Jawaban bisa sangat beragam, dari yang bersifat teknis seperti, "makhluk hidup yang bahan dasarnya dari tanah lalu berubah menjadi maniy dan selanjutnya tumbuh berkembang menjadi susunan organ-organ tubuh" sampai yang bersifat filosofis dan teologis seperti, "makhluk Allah yang dicipta untuk menjadi khalifatullah yang bertugas menyelenggarakan kehidupan di bumi". Jawaban tak menyinggung substansi diri manusia.

Lalu ketika ditanya "sejak kapan anda menjadi manusia?", apa jawab anda? Sebagian besar orang akan menjawab, "sejak lahir!" atau setidaknya, "sejak ibuku hamil dan mulai terbentuknya janin yang bakal menjadi tubuhku!". Mengapa anda katakan jadi manusia 'sejak tubuhku terlahir'? Karena, 'sejak tubuhku ini mulai terbentuk dan terlahirkanlah aku mulai jadi manusia'. Ooh, jadi kalau begitu yang anda maksud sebagai manusia hanya sebatas tubuh biologis itu saja, ya?

Ketika anda menganggap manusia hanya sebatas tubuh biologisnya saja berarti anda sudah terjebak dalam paradigma yang materialistis. Anda hanya mengakui sesuatu itu eksis kalau sesuatu itu hadir secara fisik material. Maka manusia pun hanya dimuliakan sebatas penampilan tubuh materialnya saja beserta benda-benda material lain yang dilekatkan pada tubuhnya. Hal-hal yang non-material dianggap tidak ada dan tidak penting. Maka orang semakin mengabaikan kejujuran, kesabaran, cinta kasih, toleransi, kesetiaan dan kerjasama. Orang hanya dimuliakan berdasarkan penampilan tubuhnya yang berkulit putih, berhidung mancung, berdasi dan berjas, bermobil mewah dan berperhiasan emas. Paradigma materialistis membuat orang terkunci wawasannya hanya pada benda-benda fisik saja, tak mampu memahami keberadaan jiwa atau ruh, apalagi dosa dan pahala.

Di dunia Barat, pasca renaissance, terjadi pergeseran dalam cara memahami manusia. Kalau Plato dan Aristoteles di zaman Yunani (asal mula peradaban Eropa) lebih memahami manusia sebagai makhluk ruhaniah, mulai abad ke-16 orang mulai menganggap manusia hanya semata makhluk biologis yang tak ada bedanya dengan binatang. Penganut teori Darwinisme tidak mengakui terjadinya penciptaan manusia oleh Tuhan, karena manusia hanya hasil evolusi lanjutan dari monyet. Ilmu psikologi bergeser dari ilmu tentang jiwa menjadi ilmu tentang perilaku (behavior). Para dokter menganggap sakit yang diderita oleh pasien disebabkan oleh gangguan keseimbangan zat-zat kimiawi yang ada di dalam tubuh, dan untuk menyembuhkannya keseimbangan itu harus dipulihkan dengan menyuntikkan zat-zat kimiawi tambahan kedalam tubuh. Manusia adalah benda, dan benda pula yang menjaga kelangsungan keberadaannya.

Sesuatu baru dikatakan ilmiah (scientific) bila berdasarkan fakta material yang terukur secara empirik. Hal-hal yang tidak ada wujud fisiknya, atau tidak ada fakta empiriknya, dianggap tidak ada. Ruh, atau jiwa, adalah bualan kosong yang tak tebukti secara ilmiah. Begitu juga agama yang banyak berbicara tentang ruh, hanya mitologi yang bersumber dari peradaban kuno. Manusia hanyalah tubuh, dan pusat tubuh adalah otak. Maka pendidikan hanya diartikan sebagai rekayasa terhadap fungsi otak. Otak merupakan kumpulan dari milyaran sel-sel otak. Sel otak merupakan kumpulan dari senyawa-senyawa kimiawi. Maka yang namanya berfikir adalah proses biokimiawi yang terjadi di dalam sel otak secara mekanistik. Manusia adalah mesin atau komputer yang teramat canggih.

Para ulama yang mendalami ajaran Islam dengan pendekatan yang rasional akan mengatakan, sesungguhnya yang paling berbahaya bagi umat Islam bukanlah ajaran Kristen, Yahudi atau agama lain, melainkan pandangan-pandangan yang materialistik. Bukan pula benturan agama dengan agama. Tetapi para filosof muslim itu melihat bahwa yang paling berbahaya bagi umat Islam adalah paradigma materialistik.

Yang disebut mengajar cukup dengan memberikan inspirasi-inspirasi ke otak. Karena otak itu adalah kumpulan sel-sel, dia bekerja secara kimiawi dan sangat mekanistik. Di sini, hidup manusia dianggap seperti mesin, sebuah kehidupan yang sangat mekanistik.

Paradigma Sekuler
Apa yang dimaksud dengan kehidupan? Pada paradigma kemanusiaan, manusia mengartikan bahwa manusia hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi. Apa itu hidup? Hidup adalah kehadiran tubuh di bumi. Kalau kita mati tubuh kita dikubur busuk dan hancur. Maka, dengan mati, musnahlah tubuh sekaligus hidup ini. Karena sekarang belum mati dan tidak musnah, maka tubuh ini hidup masih ada di bumi.

Bumi dalam bahasa latin adalah sekulum, dari kata sekulum itulah muncul istilah sekuler. Paradigma sekuler adalah suatu pandangan hidup yang memahami bahwa kehidupan hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi ini saja.

Berbeda dengan paradigma materialistik yang menganggap bahwa segala sesuatu baru ada kalau berwujud secara materi sehingga manusia pun dianggap manusia hanya sebatas tubuh, pandangan sekuler melihat kehidupan hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi. Maka, dalam konteks ini, muncul beberapa pertanyaan: lalu apa yang kita inginkan dalam hidup ini? Apa yang hendak kita capai dalam hidup?

Semua orang akan berkata saya ingin mendapatkan kebahagiaan. Apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan itu?

Paradigma Hedonistik
Orang yang materialistik otomatis akan menjadi sekuler. Karena orientasi hidupnya hanya pada kebendaan maka otomatis akan terjebak pada ke-kini-di-sini- an. Lalu apa yang mereka kehendaki dalam hidup ini? Semua orang yang ditanya apa yang paling mereka kehendaki dalam hidup ini pastilah akan menjawab: kebahagiaan, ketenteraman, kedamaian. Kebahagiaan yang mana? Karena yang dipahami sebagai manusia hanya tubuh biologis maka kebahagiaan adalah segala hal yang membawa kenikmatan bagi tubuhnya. Dan karena hidup hanya diartikan keberadaan di muka bumi ini saja maka kebahagiaan pun harus merupakan kenikmatan badaniah yang bisa dirasakan di sini, di bumi ini. Nah, gaya hidup yang mengejar-ngejar kenikmatan badaniah sesaat inilah yang disebut hedonisme.

Mengapa ada pria yang sudah memiliki isteri cantik, santun dan berpendidikan tinggi tapi masih mau berselingkuh dan berzina dengan wanita lain? Pria itu menjawab, karena saya menginginkan kebahagiaan. Lalu apa ukuran kebahagiaanya? Kenikmatan jismani sesaat. Bagaimana dengan isteri yang menunggu di rumah? Biarlah, hidup kan perlu variasi. Kalau yang ada cuma dari itu ke itu aja kan bosan juga. Inilah hedonisme, gaya hidup mengejar kenikmatan jismani sesaat.

Mengapa orang korupsi? Mengapa orang mau diperbudak rokok dan narkoba? Mengapa orang mau menghabiskan uang berjuta-juta untuk hiburan malam? Alasan bagi semuanya adalah: kebahagiaan. Kebahagiaan jismani walau sesaat.

Akhirnya terjadilah kehidupan yang penuh paradoks
Suatu saat Aristoteles ditanya, apakah yang paling jauh di dunia ini? Ia menjawab, khayal atau angan-angan. Apakah yang paling dekat di dunia ini? Kematian!

Mimpi hedonistik membuat orang selalu hidup tergesa-gesa, sadar akan kematian yang semakin mendekat karena ingin mendapatkan kenikmatan-kenikmat an jismani sekarang juga, di sini juga, di bumi, orang semakin merasa tertekan.

Tak pelak, orang pun berlomba-lomba mencari kenikmatan jasmaniah. Wajar jika banyak orang menjadi stres dilanda kecemasan (anxiety). Mereka merasa kesepian. Di kala tubuh makin hari semakin tua, banyak penyakit yang menghampirinya, seperti kolesterol tinggi, asam urat, tekanan darah tinggi, diabetes dan lain sebagainya. Melihat keadaan ini, mungkinkah orang akan mencapai kebahagiaan? Yang terjadi justru sebaliknya, stres meningkat. Itu sebabnya, kebahagiaan tidak dapat kita raih jika diukur hanya sebatas tubuh jasmani saja.

Apabila orang sudah terjebak pada pola hidup hedonisme, yang menghalalkan segala macam cara, maka prinsip hidup yang dianutnya adalah 3 H yaitu: halal, haram, hantam. Kalau sudah materialistik otomatis sekuler, sehingga yang disebut kenikmatan adalah kenikmatan jasmani. Baginya tidak ada kehidupan ruhaniah nanti di sana. Segala-galanya harus bisa diperoleh sekarang juga, mumpung di bumi.

Hedonisme akan membuat orang stres. Misalnya, ketika ada handphone baru dia ingin sekali memilikinya. Akibatnya, bila satu minggu saja dia belum membeli handphone tersebut, itu akan membuatnya stres. Bagaimana dia menghalau stresnya? Dia pun melakukan terobosan-terobosan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan handphone baru tadi.

Sikap hidup yang hedonis membuat orang tidak bahagia. Mengapa? Karena pola pikirnya adalah mengejar kenikmatan tubuh sesaat. Padahal, tubuh akan semakin menua dan melemah. Apabila tubuh yang semakin menua dan semakin melemah itu dipaksa harus menikmati segala sesuatu secara jasmaniah, sekarang dan di sini, bukankah hal ini hanya akan menjadikan orang bertambah stres?

Tiga Jenis Kecerdasan

Semula orang hanya membanggakan kecerdasan intelektual, tetapi
sekarang sudah diperkenalkan dua kecerdasan lainnya yaitu kecerdasan
emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).

1. Kecerdasan Intelektual dapat dilihat dari kemampuan seseorang
memandang masalah secara ilmiah, menerangkan masalah secara logis dan
menyusun rumusan problem solving berdasarkan teori. Hanya saja orang
yang hanya cerdas secara intelektual terkadang tersesat kepada logika
yang tidak relevan dengan problem solving itu sendiri. Ia puas dengan
analisanya yang masuk akal dan bangga dengan kesetiaannya kepada
kaidah keilmuan. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang IQ nya sangat
tinggi jarang sukses memimpin sebuah institusi, sebaliknya kebanyakkan
mereka justru bekerja pada institusi yang dipimpin oleh orang yang
justru IQnya sedang-sedang saja.

2. Kecerdasan Emosional ditandai dengan kemampuan seseorang
mengendalikan diri dalam menghadapi keadaan yang sulit. Dengan
pengendalian diri yang kuat, ia bisa dengan tenang melihat
permasalahan dan dengan tenang memperhitungkan dampak dari suatu
keputusan atau suatu tindakan. Perhatian orang yang cerdas secara
emosi bukan pada kaidah ilmu atau kaidah logika tetapi pada bagaimana
problem solving dapat dijalankan, oleh karena itu ia bukan hanya
berpikir logis tetapi juga berpikir arif dan bijak. Ia bukan hanya
mengenali siapa dirinya, tetapi ia juga bekerja keras mengenali orang
lain yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi. Baginya bukan
kemenangan yang menjadi target, tetapi keberhasilan. Banyak orang yang
menang diawal tapi gagal di belakang, sebaliknya orang yang cerdas
secara emosi tak mengapa mengalah di depan demi untuk kemenangan yang
sesungguhnya dibelakang nanti.

3. Kecerdasan Spiritual ditandai dengan kemampuan seseorang memandang
masalah secara batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala. Jika
pandangan mata kepala terhalang sekat ruang dan waktu. Orang yang
memiliki kecerdasan spiritual bukan saja bisa melihat hal-hal dibalik
ruang tetapi juga bisa berkomunikasi dengan siapa saja di masa lalu
dan yang akan bermain di masa depan. Jika ciri utama orang yang
memiliki kecerdsan emosional itu mampu berinteraksi secara hamonis
dengan keadaan atau problem hari ini, maka cirri orang yang memiliki
kecerdasan spiritual adalah memiliki visi jauh ke depan, melampaui
zamannya.

Negarawan yang idealis biasanya memiliki ketiga unsur kecerdasan ini,
sehingga puluhan atau bahkan ratusan tahun setelah kematiannya,
gagasan-gagasan politiknya masih relevan, sementara politisi
pragmatis, gagasan politiknya sudah terkubur bersama dengan kelengserannya

Dualisme dan Monoisme

Ada pencipta dan ada ciptaan, berarti ada dua eksisten, ada dua hal. Tapi yang kedua berasal dari yang pertama. Jadi sebenarnya yang kedua bukan suatu keberadaan yang sejati karena keberadaannya bersumber dari keberadaan yang lain. Ia bukan keberadaan yang sesungguhnya, sebab ia ada karena dikendaki dan diadakan oleh yang pertama. Lalu siapakah keberadaan yang pertama itu? Keberadaan yang hakiki, yang darinya bersumber keberadaan yang lain? Keberadaan yang Mahacerdas, yang Mahamenghendaki, yang Mahamengadakan? Ia mampu mengadakan makhluk-makhluk hidup, berarti Ia Mahamenghidupi. Ia penyebab keteraturan di alam semesta ini, berarti Ia Mahapengatur. Saya menuliskan ide-ide dan pemikiran-pemikiran macam ini, lalu Anda membaca dan memahaminya, padahal kita bersumber dari Dia, berarti Dia Mahapemikir dan Mahapemaham. Ia sungguh Ada, Hidup, Cerdas, Berkendak dan Mampu!
Dahulu kala ada seorang anak muda bernama Ibrahim, yang seperti umumnya orang muda lain, ia cerdas, kritis dan berani. Wajar kalau ia selalu mempertanyakan setiap peristiwa dan keadaan yang terjadi di sekitarnya. Termasuk kebiasaan orang-orang di sekitarnya yang sibuk menyembah dan mengabdikan diri mereka kepada patung-patung. Ia mengkritisi sikap itu, apakah patung-patung itu memang layak disembah? Mengapa orang harus menggantungkan harapan hidupnya kepada patung?

Ibrahim bertanya kepada orang-orang di sekitarnya, bahkan kepada ayahnya, yang dalam tatanan moral dan budaya mereka saat itu, menempati posisi yang sangat terhormat. Posisi terhormat ayah yang semestinya diseganinya tak mampu membendung hasrat keingintahuan dan kekrtitisannya. Tapi setiap jawaban yang diterima selalu mengundang pertanyaan lainnya. Dan masyarakat disekitarnya tak lagi mampu memberi penjelasan kecuali: "Inilah yang sedari dulu kami melihat nenek-moyang kami melakukannya" . Mestinya, dalam anggapan mereka, sesuatu yang sudah dilakukan oleh orang banyak, bahkan secara turun-temurun, dianggap sebagai suatu kebenaran yang final dan tidak lagi dipertanyakan.

Tapi, bagi Ibrahim yang muda, tidak. Sesuatu yang sudah diyakini oleh orang banyak, meski secara turun sejak waktu yang lama, tidak berarti keyakinan itu benar dan menjadi steril dari pengujian. Memang manusia tak pernah lepas dari keyakinan. Tak ada ragu yang sempurna. Orang yang sedang sangat meragukan sesuatu sebenarnya saat itu pula ia sedang sangat yakin dengan keraguannya. Tapi keyakinan, selain sebagai sesuatu yang tak terhindari, dalam waktu yang bersamaan pun harus merupakan suatu kebenaran. Sebab meyakini sesuatu yang tidak benar atau cara berkeyakinan yang tidak benar, bukan saja mencederai keyakinan itu sendiri tapi juga membahayakan.

Meyakini bahwa binatang buas yang diasuhnya sudah betul-betul jinak, telah membuat banyak pawang celaka diterkam oleh binatang asuhannya. Ternyata binatang buas tetap saja binatang buas. Begitu juga seorang isteri yang sangat percaya bahwa suaminya mencintainya, dan memang sang suami sangat mencintainya, tapi, karena sering membiarkan suaminya berdua-duaan dengan wanita lain, akhirnya harus kecewa karena ia telah mempercayai sesuatu yang benar namun dengan cara berkepercayaan yang salah.
Kepercayaan dan kebenaran haruslah berdampingan seperti dua sisi pada satu uang logam.

Ibrahim muda dan kritis, kekritisan yang menuntut jawaban tepat untuk diyakini. Dan ia pun berani untuk mencari kebenaran itu, berani bertanya dan bereksperimen tentang keyakinannya, berani pula menanggung segala konsekuensinya. Di dalam dirinya ada kerinduan yang mendalam untuk menjumpai kebenaran yang hakiki, kerinduan yang selalu mengusiknya untuk mencari sumber dari segala sesuatu yang ada, yang Mahaada, Mahahidup, Mahacerdas, Mahaberkehendak dan Mahamampu.

Eksperimen yang berani
Kalau paparan wacana yang logis dan sistematis tak juga membuat seseorang mengerti suatu persoalan, kiranya cara apa lagi yang perlu dikemukakan untuk orang itu dapat mengerti? Pembuktian empirik. Satu gambar berbicara seribu bahasa. Melihat bukan saja membuat orang mengerti tapi juga meyakini. Perbuatan nyata menepis setiap tanya. Pembuktian empirik yang dilakukan Ibrahim dengan menghancurkan patung-patung yang disembah membuat setiap orang menarik kesadaran dirinya kedalam lubuk keyakinan yang paling dalam untuk bertanya masihkan keyakinan itu patut dipertahankan? Keyakinan yang telah mengalami koreksi memunculkan kesadaran baru yang lebih segar.

Tapi kekuasaan massa masih lebih tinggi lagi
Orang banyak tak mampu lagi melawan argumen, logika dan bukti empiris yang disodorkan oleh Ibrahim. Mereka tak punya lagi dasar untuk pendirian mereka. Tapi, seperti umumnya orang kebanyakan lainnya, mereka sulit untuk menerima sesuatu yang baru. Bukan hal yang mudah untuk mengubah keyakinan yang telah terindoktrinasi secara turun temurun dengan prinsip-prinsip baru, meski itu lebih benar. Yang sulit adalah mengubah kebiasaan, termasuk kebiasaan dalam meyakini, kebiasaan menyikapai dan kebiasaan merasakan.

Pada saat terdesak mungkin orang akan mengangguk mengiyakan dengan peraqsaan menolak. Di depan raja lalim yang galak para petani akan bersujud sambil kentut. Meskipun pendirian yang mereka yakini tidak benar, tapi setidaknya mereka masih memiliki kelebihan yaitu kebersamaan dengan orang banyak. Bersama-sama dalam kesalahan masih memberi rasa aman, daripada berkemungkinan menuju kebenaran tapi dalam sendirian.

Kebersamaan dan rasa aman membangkitkan kekuatan. Kalau saja ada yang menyulut kekuatan itu akan menjadi ledakan kemarahan. Tiba-tiba dari tengah kerumunan orang yang mendakwa Ibrahim terdengar suara: "Bakar saja...!". Akhirnya mereka membakar Ibrahim. Tapi Allah berkehendak lain. Dengan perintah Allah: "Wahai api, jadilah engkau dingin dan damai terhadap Ibrahim", maka Ibrahim selamat dari pembakaran. Lalu apa lagi yang harus diperbuat oleh Ibrahim terhadap umatnya?

Kepada mereka sudah diberikan pengertian yang rasional dan ilmiah. Sudah ditunjukkan bukti-bukti nyata yang empirik tentang ketidakberdayaan patung-patung. Mereka pun sudah menyaksikan sendiri mukjizat, peristiwa ajaib, yang terjadi ketika betapa Ibrahim tak terbakar. Mestinya mereka berfikir, jangan-jangan dengan semua bukti-bukti itu Ibrahim memang benar sehingga alam dan Tuhan pun berpihak kepadanya.