Paradigma Materialistik
Kalau anda ditanya "apa itu manusia?", apa jawab anda? Jawaban bisa sangat beragam, dari yang bersifat teknis seperti, "makhluk hidup yang bahan dasarnya dari tanah lalu berubah menjadi maniy dan selanjutnya tumbuh berkembang menjadi susunan organ-organ tubuh" sampai yang bersifat filosofis dan teologis seperti, "makhluk Allah yang dicipta untuk menjadi khalifatullah yang bertugas menyelenggarakan kehidupan di bumi". Jawaban tak menyinggung substansi diri manusia.
Lalu ketika ditanya "sejak kapan anda menjadi manusia?", apa jawab anda? Sebagian besar orang akan menjawab, "sejak lahir!" atau setidaknya, "sejak ibuku hamil dan mulai terbentuknya janin yang bakal menjadi tubuhku!". Mengapa anda katakan jadi manusia 'sejak tubuhku terlahir'? Karena, 'sejak tubuhku ini mulai terbentuk dan terlahirkanlah aku mulai jadi manusia'. Ooh, jadi kalau begitu yang anda maksud sebagai manusia hanya sebatas tubuh biologis itu saja, ya?
Ketika anda menganggap manusia hanya sebatas tubuh biologisnya saja berarti anda sudah terjebak dalam paradigma yang materialistis. Anda hanya mengakui sesuatu itu eksis kalau sesuatu itu hadir secara fisik material. Maka manusia pun hanya dimuliakan sebatas penampilan tubuh materialnya saja beserta benda-benda material lain yang dilekatkan pada tubuhnya. Hal-hal yang non-material dianggap tidak ada dan tidak penting. Maka orang semakin mengabaikan kejujuran, kesabaran, cinta kasih, toleransi, kesetiaan dan kerjasama. Orang hanya dimuliakan berdasarkan penampilan tubuhnya yang berkulit putih, berhidung mancung, berdasi dan berjas, bermobil mewah dan berperhiasan emas. Paradigma materialistis membuat orang terkunci wawasannya hanya pada benda-benda fisik saja, tak mampu memahami keberadaan jiwa atau ruh, apalagi dosa dan pahala.
Di dunia Barat, pasca renaissance, terjadi pergeseran dalam cara memahami manusia. Kalau Plato dan Aristoteles di zaman Yunani (asal mula peradaban Eropa) lebih memahami manusia sebagai makhluk ruhaniah, mulai abad ke-16 orang mulai menganggap manusia hanya semata makhluk biologis yang tak ada bedanya dengan binatang. Penganut teori Darwinisme tidak mengakui terjadinya penciptaan manusia oleh Tuhan, karena manusia hanya hasil evolusi lanjutan dari monyet. Ilmu psikologi bergeser dari ilmu tentang jiwa menjadi ilmu tentang perilaku (behavior). Para dokter menganggap sakit yang diderita oleh pasien disebabkan oleh gangguan keseimbangan zat-zat kimiawi yang ada di dalam tubuh, dan untuk menyembuhkannya keseimbangan itu harus dipulihkan dengan menyuntikkan zat-zat kimiawi tambahan kedalam tubuh. Manusia adalah benda, dan benda pula yang menjaga kelangsungan keberadaannya.
Sesuatu baru dikatakan ilmiah (scientific) bila berdasarkan fakta material yang terukur secara empirik. Hal-hal yang tidak ada wujud fisiknya, atau tidak ada fakta empiriknya, dianggap tidak ada. Ruh, atau jiwa, adalah bualan kosong yang tak tebukti secara ilmiah. Begitu juga agama yang banyak berbicara tentang ruh, hanya mitologi yang bersumber dari peradaban kuno. Manusia hanyalah tubuh, dan pusat tubuh adalah otak. Maka pendidikan hanya diartikan sebagai rekayasa terhadap fungsi otak. Otak merupakan kumpulan dari milyaran sel-sel otak. Sel otak merupakan kumpulan dari senyawa-senyawa kimiawi. Maka yang namanya berfikir adalah proses biokimiawi yang terjadi di dalam sel otak secara mekanistik. Manusia adalah mesin atau komputer yang teramat canggih.
Para ulama yang mendalami ajaran Islam dengan pendekatan yang rasional akan mengatakan, sesungguhnya yang paling berbahaya bagi umat Islam bukanlah ajaran Kristen, Yahudi atau agama lain, melainkan pandangan-pandangan yang materialistik. Bukan pula benturan agama dengan agama. Tetapi para filosof muslim itu melihat bahwa yang paling berbahaya bagi umat Islam adalah paradigma materialistik.
Yang disebut mengajar cukup dengan memberikan inspirasi-inspirasi ke otak. Karena otak itu adalah kumpulan sel-sel, dia bekerja secara kimiawi dan sangat mekanistik. Di sini, hidup manusia dianggap seperti mesin, sebuah kehidupan yang sangat mekanistik.
Paradigma Sekuler
Apa yang dimaksud dengan kehidupan? Pada paradigma kemanusiaan, manusia mengartikan bahwa manusia hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi. Apa itu hidup? Hidup adalah kehadiran tubuh di bumi. Kalau kita mati tubuh kita dikubur busuk dan hancur. Maka, dengan mati, musnahlah tubuh sekaligus hidup ini. Karena sekarang belum mati dan tidak musnah, maka tubuh ini hidup masih ada di bumi.
Bumi dalam bahasa latin adalah sekulum, dari kata sekulum itulah muncul istilah sekuler. Paradigma sekuler adalah suatu pandangan hidup yang memahami bahwa kehidupan hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi ini saja.
Berbeda dengan paradigma materialistik yang menganggap bahwa segala sesuatu baru ada kalau berwujud secara materi sehingga manusia pun dianggap manusia hanya sebatas tubuh, pandangan sekuler melihat kehidupan hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi. Maka, dalam konteks ini, muncul beberapa pertanyaan: lalu apa yang kita inginkan dalam hidup ini? Apa yang hendak kita capai dalam hidup?
Semua orang akan berkata saya ingin mendapatkan kebahagiaan. Apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan itu?
Paradigma Hedonistik
Orang yang materialistik otomatis akan menjadi sekuler. Karena orientasi hidupnya hanya pada kebendaan maka otomatis akan terjebak pada ke-kini-di-sini- an. Lalu apa yang mereka kehendaki dalam hidup ini? Semua orang yang ditanya apa yang paling mereka kehendaki dalam hidup ini pastilah akan menjawab: kebahagiaan, ketenteraman, kedamaian. Kebahagiaan yang mana? Karena yang dipahami sebagai manusia hanya tubuh biologis maka kebahagiaan adalah segala hal yang membawa kenikmatan bagi tubuhnya. Dan karena hidup hanya diartikan keberadaan di muka bumi ini saja maka kebahagiaan pun harus merupakan kenikmatan badaniah yang bisa dirasakan di sini, di bumi ini. Nah, gaya hidup yang mengejar-ngejar kenikmatan badaniah sesaat inilah yang disebut hedonisme.
Mengapa ada pria yang sudah memiliki isteri cantik, santun dan berpendidikan tinggi tapi masih mau berselingkuh dan berzina dengan wanita lain? Pria itu menjawab, karena saya menginginkan kebahagiaan. Lalu apa ukuran kebahagiaanya? Kenikmatan jismani sesaat. Bagaimana dengan isteri yang menunggu di rumah? Biarlah, hidup kan perlu variasi. Kalau yang ada cuma dari itu ke itu aja kan bosan juga. Inilah hedonisme, gaya hidup mengejar kenikmatan jismani sesaat.
Mengapa orang korupsi? Mengapa orang mau diperbudak rokok dan narkoba? Mengapa orang mau menghabiskan uang berjuta-juta untuk hiburan malam? Alasan bagi semuanya adalah: kebahagiaan. Kebahagiaan jismani walau sesaat.
Akhirnya terjadilah kehidupan yang penuh paradoks
Suatu saat Aristoteles ditanya, apakah yang paling jauh di dunia ini? Ia menjawab, khayal atau angan-angan. Apakah yang paling dekat di dunia ini? Kematian!
Mimpi hedonistik membuat orang selalu hidup tergesa-gesa, sadar akan kematian yang semakin mendekat karena ingin mendapatkan kenikmatan-kenikmat an jismani sekarang juga, di sini juga, di bumi, orang semakin merasa tertekan.
Tak pelak, orang pun berlomba-lomba mencari kenikmatan jasmaniah. Wajar jika banyak orang menjadi stres dilanda kecemasan (anxiety). Mereka merasa kesepian. Di kala tubuh makin hari semakin tua, banyak penyakit yang menghampirinya, seperti kolesterol tinggi, asam urat, tekanan darah tinggi, diabetes dan lain sebagainya. Melihat keadaan ini, mungkinkah orang akan mencapai kebahagiaan? Yang terjadi justru sebaliknya, stres meningkat. Itu sebabnya, kebahagiaan tidak dapat kita raih jika diukur hanya sebatas tubuh jasmani saja.
Apabila orang sudah terjebak pada pola hidup hedonisme, yang menghalalkan segala macam cara, maka prinsip hidup yang dianutnya adalah 3 H yaitu: halal, haram, hantam. Kalau sudah materialistik otomatis sekuler, sehingga yang disebut kenikmatan adalah kenikmatan jasmani. Baginya tidak ada kehidupan ruhaniah nanti di sana. Segala-galanya harus bisa diperoleh sekarang juga, mumpung di bumi.
Hedonisme akan membuat orang stres. Misalnya, ketika ada handphone baru dia ingin sekali memilikinya. Akibatnya, bila satu minggu saja dia belum membeli handphone tersebut, itu akan membuatnya stres. Bagaimana dia menghalau stresnya? Dia pun melakukan terobosan-terobosan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan handphone baru tadi.
Sikap hidup yang hedonis membuat orang tidak bahagia. Mengapa? Karena pola pikirnya adalah mengejar kenikmatan tubuh sesaat. Padahal, tubuh akan semakin menua dan melemah. Apabila tubuh yang semakin menua dan semakin melemah itu dipaksa harus menikmati segala sesuatu secara jasmaniah, sekarang dan di sini, bukankah hal ini hanya akan menjadikan orang bertambah stres?
Selasa, 29 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar