Ada pencipta dan ada ciptaan, berarti ada dua eksisten, ada dua hal. Tapi yang kedua berasal dari yang pertama. Jadi sebenarnya yang kedua bukan suatu keberadaan yang sejati karena keberadaannya bersumber dari keberadaan yang lain. Ia bukan keberadaan yang sesungguhnya, sebab ia ada karena dikendaki dan diadakan oleh yang pertama. Lalu siapakah keberadaan yang pertama itu? Keberadaan yang hakiki, yang darinya bersumber keberadaan yang lain? Keberadaan yang Mahacerdas, yang Mahamenghendaki, yang Mahamengadakan? Ia mampu mengadakan makhluk-makhluk hidup, berarti Ia Mahamenghidupi. Ia penyebab keteraturan di alam semesta ini, berarti Ia Mahapengatur. Saya menuliskan ide-ide dan pemikiran-pemikiran macam ini, lalu Anda membaca dan memahaminya, padahal kita bersumber dari Dia, berarti Dia Mahapemikir dan Mahapemaham. Ia sungguh Ada, Hidup, Cerdas, Berkendak dan Mampu!
Dahulu kala ada seorang anak muda bernama Ibrahim, yang seperti umumnya orang muda lain, ia cerdas, kritis dan berani. Wajar kalau ia selalu mempertanyakan setiap peristiwa dan keadaan yang terjadi di sekitarnya. Termasuk kebiasaan orang-orang di sekitarnya yang sibuk menyembah dan mengabdikan diri mereka kepada patung-patung. Ia mengkritisi sikap itu, apakah patung-patung itu memang layak disembah? Mengapa orang harus menggantungkan harapan hidupnya kepada patung?
Ibrahim bertanya kepada orang-orang di sekitarnya, bahkan kepada ayahnya, yang dalam tatanan moral dan budaya mereka saat itu, menempati posisi yang sangat terhormat. Posisi terhormat ayah yang semestinya diseganinya tak mampu membendung hasrat keingintahuan dan kekrtitisannya. Tapi setiap jawaban yang diterima selalu mengundang pertanyaan lainnya. Dan masyarakat disekitarnya tak lagi mampu memberi penjelasan kecuali: "Inilah yang sedari dulu kami melihat nenek-moyang kami melakukannya" . Mestinya, dalam anggapan mereka, sesuatu yang sudah dilakukan oleh orang banyak, bahkan secara turun-temurun, dianggap sebagai suatu kebenaran yang final dan tidak lagi dipertanyakan.
Tapi, bagi Ibrahim yang muda, tidak. Sesuatu yang sudah diyakini oleh orang banyak, meski secara turun sejak waktu yang lama, tidak berarti keyakinan itu benar dan menjadi steril dari pengujian. Memang manusia tak pernah lepas dari keyakinan. Tak ada ragu yang sempurna. Orang yang sedang sangat meragukan sesuatu sebenarnya saat itu pula ia sedang sangat yakin dengan keraguannya. Tapi keyakinan, selain sebagai sesuatu yang tak terhindari, dalam waktu yang bersamaan pun harus merupakan suatu kebenaran. Sebab meyakini sesuatu yang tidak benar atau cara berkeyakinan yang tidak benar, bukan saja mencederai keyakinan itu sendiri tapi juga membahayakan.
Meyakini bahwa binatang buas yang diasuhnya sudah betul-betul jinak, telah membuat banyak pawang celaka diterkam oleh binatang asuhannya. Ternyata binatang buas tetap saja binatang buas. Begitu juga seorang isteri yang sangat percaya bahwa suaminya mencintainya, dan memang sang suami sangat mencintainya, tapi, karena sering membiarkan suaminya berdua-duaan dengan wanita lain, akhirnya harus kecewa karena ia telah mempercayai sesuatu yang benar namun dengan cara berkepercayaan yang salah.
Kepercayaan dan kebenaran haruslah berdampingan seperti dua sisi pada satu uang logam.
Ibrahim muda dan kritis, kekritisan yang menuntut jawaban tepat untuk diyakini. Dan ia pun berani untuk mencari kebenaran itu, berani bertanya dan bereksperimen tentang keyakinannya, berani pula menanggung segala konsekuensinya. Di dalam dirinya ada kerinduan yang mendalam untuk menjumpai kebenaran yang hakiki, kerinduan yang selalu mengusiknya untuk mencari sumber dari segala sesuatu yang ada, yang Mahaada, Mahahidup, Mahacerdas, Mahaberkehendak dan Mahamampu.
Eksperimen yang berani
Kalau paparan wacana yang logis dan sistematis tak juga membuat seseorang mengerti suatu persoalan, kiranya cara apa lagi yang perlu dikemukakan untuk orang itu dapat mengerti? Pembuktian empirik. Satu gambar berbicara seribu bahasa. Melihat bukan saja membuat orang mengerti tapi juga meyakini. Perbuatan nyata menepis setiap tanya. Pembuktian empirik yang dilakukan Ibrahim dengan menghancurkan patung-patung yang disembah membuat setiap orang menarik kesadaran dirinya kedalam lubuk keyakinan yang paling dalam untuk bertanya masihkan keyakinan itu patut dipertahankan? Keyakinan yang telah mengalami koreksi memunculkan kesadaran baru yang lebih segar.
Tapi kekuasaan massa masih lebih tinggi lagi
Orang banyak tak mampu lagi melawan argumen, logika dan bukti empiris yang disodorkan oleh Ibrahim. Mereka tak punya lagi dasar untuk pendirian mereka. Tapi, seperti umumnya orang kebanyakan lainnya, mereka sulit untuk menerima sesuatu yang baru. Bukan hal yang mudah untuk mengubah keyakinan yang telah terindoktrinasi secara turun temurun dengan prinsip-prinsip baru, meski itu lebih benar. Yang sulit adalah mengubah kebiasaan, termasuk kebiasaan dalam meyakini, kebiasaan menyikapai dan kebiasaan merasakan.
Pada saat terdesak mungkin orang akan mengangguk mengiyakan dengan peraqsaan menolak. Di depan raja lalim yang galak para petani akan bersujud sambil kentut. Meskipun pendirian yang mereka yakini tidak benar, tapi setidaknya mereka masih memiliki kelebihan yaitu kebersamaan dengan orang banyak. Bersama-sama dalam kesalahan masih memberi rasa aman, daripada berkemungkinan menuju kebenaran tapi dalam sendirian.
Kebersamaan dan rasa aman membangkitkan kekuatan. Kalau saja ada yang menyulut kekuatan itu akan menjadi ledakan kemarahan. Tiba-tiba dari tengah kerumunan orang yang mendakwa Ibrahim terdengar suara: "Bakar saja...!". Akhirnya mereka membakar Ibrahim. Tapi Allah berkehendak lain. Dengan perintah Allah: "Wahai api, jadilah engkau dingin dan damai terhadap Ibrahim", maka Ibrahim selamat dari pembakaran. Lalu apa lagi yang harus diperbuat oleh Ibrahim terhadap umatnya?
Kepada mereka sudah diberikan pengertian yang rasional dan ilmiah. Sudah ditunjukkan bukti-bukti nyata yang empirik tentang ketidakberdayaan patung-patung. Mereka pun sudah menyaksikan sendiri mukjizat, peristiwa ajaib, yang terjadi ketika betapa Ibrahim tak terbakar. Mestinya mereka berfikir, jangan-jangan dengan semua bukti-bukti itu Ibrahim memang benar sehingga alam dan Tuhan pun berpihak kepadanya.
Selasa, 29 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar